Antara ilmu dan amal – akan secara bergantian posisi. Pada suatu masa atau zaman ilmu akan menempati posisi sebagai yang lebih baik dari pada amal. Dan, pada masa atau zaman yang lain berganti, amal akan menempati posisi sebagai yang lebih baik dari pada ilmu.
Kok bisa begitu? Sebenarnya apa yang menjadi ciri-ciri dan penentunya?
Imam At-Thabarani –rahimahullah– di dalam kitab Mu’jamul Kabir meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Sungguh kalian berada pada masa (zaman) yang orang-orang faqih-nya banyak, sedangkan para khathib, penceramah atau orator-nya sedikit, banyak (harta) yang diberikan dan sedikit para peminta-minta, ketika itu amal adalah lebih baik daripada ilmu”
Selanjutnya,
“Dan akan datang satu masa (setelah kalian), yang orang-orang faqih-nya sedikit, sementara para khathib, penceramah atau orator-nya banyak, para peminta-minta banyak dan sedikit (harta) yang diberikan, pada masa itu ilmu lebih baik dari pada amal.” (HR. At-Thabarani)
Ternyata, berdasarkan hadits tersebut yang menentukan adalah perbandingan antara orang yang faqih fiddin dan penceramah. Dan, masa atau zaman itu dicirikan oleh sedikit-banyaknya peminta-minta dan banyak-sedikitnya harta yang dibagikan.
Lha, kita sekarang ini berada pada masa atau zaman yang mana?
Banyak fuqaha-nya, sedikit khuthaba-nya atau sebaliknya banyak khuthaba-nya dan sedikit fuqaha-nya?
Monggo dipun tafakkuri!!! Agar kita bisa menentukan prioritas posisi antara ilmu dan amal. Wallahu a’lam bishshawab.





